Friday, September 09, 2011

Cepat, atau lambat? Kini atau nanti?

Setelah sekian lama, kini menguntai lagi. :)

Setahun.

Itukah waktu yang aku butuhkan untuk sekedar melihat lagi, melihat rupa diri?

Saat ini, memang, ini yang perlu dilakukan.

Perlahan tapi pasti, waktu terus berlari. tik tok tik tok.

Aku mencari, mencari dan mencari. Mengejar, mengejar dan mengejar. Ketika sudah dekat, aku lari.

lets begin

Setahun, apa yang sudah aku buat?
Aku mulai melihat wajah-wajah.
Wajah orang-orang di sekitar.
Wajah aktivitas tercurah.
Wajah tertangkapnya kehausan ilmu.
Wajah riang menguras otak.
Wajah menari setali uang.
Wajah tawa bahagia..
Wajah tangisan dalam
Wajah teriakan hina
Wajah sendu mendendam
Wajah diam berantak...
Wajah amarah riang
Wajah kelaparan kuasa
Wajah ketiadaan
Wajah kemunafikan
Wajah ketaatan...

Apa yang aku inginkan?
Aku ingin menjadi aku. Bukan "dia". Bukan "itu". Bukan "luarbiasa".

there are lot of things I wanna do, I wanna know, and I wanna be. ONE.

Kini tibalah pilihan.
Sudah siapkah?
Dunia atau akhirat?
Baik atau buruk?
Maju atau bertahan?
"Ingin" atau "Budak"?

Kini mulai terasa perbudakan. Segala tindakan tak lagi karena rasa ingin mendalam. Semua menjadi "biasa".
Bangun pagi, mandi, sikat gigi, cuci muka, berangkat, naik angkutan kota, memasang mp4, menutup telinga atas dunia, asik bermain dengan fitur, membeli tiket yang sama, masuk ke gerbong yang sama, duduk/berdiri di tempat yang sama, menonton video yang berjenis sama, memasang masker di wajah yang sama, menggerutu soal hal yang sama, tertawa soal hal serupa, turun di stasiun yang sama, menaiki ojek yang sama, turun di tempat yang sama, absen dengan jari yang sama, naik ke tangga yang sama, menaruh barang di tempat yang sama, duduk di tempat yang sama, mengerjakan banyak hal yang seragam.

Ah.
Apa-apaan sih ini.
Sama sekali tak bisa dimengerti.
Hidup macam ini bukan hidup.
Aku ingin menjadi.
Menjadi.

Harus melakukan hal yang beda.

Seakan saat ini terjebak.

terjebak.

aku ingin berlari.

LARI.



Thursday, September 16, 2010

tahun 0 0

Hm
Selang beberapa bulan (hampir setahun) tidak menulis disini.
Jadi bertanya, apa selama itu hilang dari kehidupan?
Kehidupan yang sebenarnya.

Selama ini berkutat dengan pekerjaan.
Sampai berlabuh pada satu titik, saat ini.
.
.

Mulai melihat, membalik, merunut, mengurai.

tertumbuk pada satu kenyataan bahwa setahun belakangan adalah tahun yang sia-sia. Berani benar menyebutnya sia-sia? Ya, memang sia-sia. Setahun belakangan menjadi sosok yang tak dikenali sama sekali. Berubah menjadi orang kebanyakan. Apa itu yang dimau?

Perlahan dengan penuh keraguan menapak, mencoba membelok ke kanan, ke kiri, menoleh ke segala arah dan sesekali berhenti di tikungan yang keliru. Keinginan mencoba, meluap-luap, menguasai hati, menutup tiupan kalbu. Jalan berlanjut dengan wajah tawa dan hati yang tersandung-sandung. Menjadi asing.

Berkelanjutan tak tertahankan. Ingin berhenti dan membalik. Tapi tak tahu mana jalan balik teraman.

Titik ini, menjadikan dunia bersih. Mata terang. Hati penuh cahaya.

Passion.

Chase.

Happiness.

Life.

Living.

Joy.

Saat ini.


For what it's worth : it's never too late or, in my case, too early to be whoever you want to be. There's no time limit, stop whenever you want. You can change or stay the same, there are no rules to this thing. We can make the best or the worst of it. I hope you make the best of it. And I hope you see things that startle you. I hope you feel things you never felt before. I hope you meet people with different point of view. I hope you live a life you're proud of. If you find that you're not, I hope you have the strength to start all over again.

(Benjamin Button's letter to his daughter)

Thursday, November 26, 2009

bintang.

akhirnya aku mengerti.
mengerti akan keinginanku yang begitu besar untuk melihat bintang-bintang berkelip di langit yang bersih tanpa tutupan awan.
aku mengerti.
mengapa aku lebih suka melihat kilauan kristal daripada emas yang berkilat.
aku mengerti.
mengapa aku begitu cinta melihat bulan, baik ia berwarna merah, maupun putih.
aku mengerti.
mengapa aku begitu suka melihat lampu.
aku mengerti.
mengapa aku suka melihat tanaman hijau di Kalimantan.
aku mengeri.
mengapa aku suka dengan gelas.
satu kata.
CAHAYA.

Sunday, July 12, 2009

thank you Ya Rabb..

Rumahku
Wajah-wajah sendu
Tawa-tawa semu
Kata-kata rancu
Beradu,
Acuh tak acuh.

Sekian lama aku tak lagi menulis.
Sulit rasanya untuk kembali, kembali ke rumah, membiaskan segala rasa yang ada.
Karena hidupku ini makin membias. Bukan rasaku yang terbias, tapi justru pikiranku.
Mulai perlahan muncul ketakutan. Ketakutan akan hilangnya kestabilan hidup.
Hidupku benar-benar terombang-ambing, terbalik, berputar – dengan cara yang sama sekali belum pernah kubayangkan.

Saat ini pun aku tak tahu jalan ini benar atau salah, yang kutahu aku harus menjalani jalan ini untuk menemukan cabang yang lain, lalu berpindah untuk dapat melihat matahari dengan leluasa, menikmati langit dengan segala kecantikannya, dan merasa puas tanpa ada kekecewaan.

Tahun lalu begitu berat.
Dan aku merasa Engkau sungguh memberi pelajaran yang sangat menghentak dalam pikiranku.
Hati ini memang harus senantiasa terjaga.
Terjaga, terjaga.
Jangan sampai ia terlena dengan kenyamanan sesaat.
Harus senantiasa berusaha dan menanti keputusanMu dengan penuh kepasrahan.

Ya Rabb, senantiasa bersyukur atas petunjukMu…
Atas cinta yang datang lalu pergi…
Atas sahabat yang datang dan pergi…
Atas kebahagiaan yang datang dan pergi..
Atas kehilangan orang-orang tercinta..

Ya Rabb, aku senantiasa bersyukur atas anugerahMu..
Atas sahabat yang datang tak terduga…
Atas kebahagiaan untuk menikmati setiap saat dalam hidupku..
Atas ketenangan dalaam batinku..
Dan atas datangnya kembali cinta dalam hidupku…

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman)

Thursday, June 25, 2009

can i walk with you?

I woke up this morning you were the first thing on my mind
I don't know where it came from all I know is I need you in my life
You make me feel like I can be a better woman
If you just say you wanna take this friendship to another place

Chorus:
Can I walk with you through your life
Can I lay with you as your wife
Can I be your friend till the end
Can I walk with you through your life

You've got me wondering if you know that I am wondering about you
The feeling is so strong that I can't imagine you're not feeling it too
You've known me long enough to trust that I want what's best for you
If you wanna be happy then I am the one that you should give your heart to

Chorus

Now everyday ain't gonna be, like the summer's day
Being in love for real it ain't like a movie screen
But I can tell you all the drama aside you and I can find what the worlds been
looking for forever friendship and love together

Chorus

Can I walk with you through your life till the day that the world stops turning
Can I walk with you till the day that my heart stops beating
Can I walk with you through your life
Can I walk with you till the end that the birds no longer take flight till the
moon is underwater
Can I walk with you
Can I walk with you

This is the moment I've been waiting for
Can I walk with you
Can I walk with you
Can I walk with you

You are everything I've been looking for
Can I walk with you
Creative intellectual
Can I walk with you
Can I walk with you as your wife

Wednesday, April 08, 2009

aku dan pak pos - 1

Dengan pelan ia melaju sepeda motornya yang butut. Terkadang sesekali ia oleng ke kiri dan kanan akibat beban sepeda motornya yang kadang berat sebelah. Susah payah ia seimbangkan tubuhnya agar karung goni berwarna coklat di sisi kanan dan kirinya tak terjatuh. Karena isi karung itulah hidupnya.

Perlahan ia menepi di depan rumahku.
Ia membunyikan klakson satu kali.
Aku bergeming.
Masih mengamatinya dari balik jendela kamarku yang terletak tepat di hadapan pagar rumah.
Ia mematikan mesin.
Ia turun dari motornya.
Ia mengeluarkan sebilah papan dengan kertas menempel diatasnya sambil merogoh-rogoh sakunya.
Perlahan dikeluarkannya sebuah kacamata dari saku jaketnya dan memakainya.
Ia dekatkan papan tadi ke dalam jarak pandangnya.
Ia lalu mengangguk dan menggumamkan kata-kata yang tak terdengar olehku.
Tak lama kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop coklat dari karung goni coklatnya, dan tersenyum.
Aku, yang mengamatinya sedari tadi, sejenak terkejut melihat senyumnya.
Tampak rona bahagia di wajahnya.
Ia bergerak ke sebelah kanan motornya lalu membunyikan klakson satu kali, lagi.
Tapi kali ini ia lanjutkan dengan teriakan lantang:
"Poooos!!"

Aku terlompat dari kursiku dan berjalan ke luar rumah.

"Ya, pak?"
"Ini neng, ada surat.. Dari BPK, neng.. Kayaknya ini buat abangnya deh. Alhamdulillah ya neng diterima!", ujarnya sambil menyodorkan amplop coklat tadi padaku.
Sebentar kuamati amplop itu. Aku tersenyum. Itu untuk abang.
"Oh iya betul pak, ini buat abang.. Tapi belum lolos semua pak, ini baru tahap pertama.. Doain aja ya pak..!", jawabku.
"Iya neng, bapak doakan! Semoga diterima yah!", sahutnya.
"Amiin. Terimakasih ya pak!", ujarku.
"Sama-sama neng. Mari..", jawabnya.
Aku tersenyum padanya, lalu melanjutkan senyumku sambil berjalan ke dalam rumah. Tak sabar memberi kabar bahagia pada keluarga.

~*~*~*~*~*~*~

Tiga minggu kemudian ia datang lagi.
Saat itu aku sedang menyiram tanaman di pekarangan rumah.
Ia tetap membunyikan klakson satu kali dan berteriak:
"Poos!"

Aku menghampirinya sambil bertanya:
"Dari mana pak?"
"Ini neng, dari BPK lagi! Mungkin ini pengumuman diterimanya, neng!", jawabnya dengan mata berbinar-binar penuh semangat.
Kupandangi amplop coklat itu. Lalu aku tersenyum.
"Belum pak, baru tahap berikutnya.."
"Oh gitu neng. Gapapa neng. Bapak selalu berdoa supaya diterima lho neng!", ucapnya bersemangat.
Mau tak mau aku tersenyum mendengarnya.
"Makasih banyak ya pak!"
"Sama-sama neng!", jawabnya sambil menyalakan mesin dan berlalu.

~*~*~*~*~*~*~

Tiga minggu kemudian tak ada kabar apapun.

~*~*~*~*~*~*~

Senin itu aku terkejut melihatnya datang pagi-pagi sekali.
Biasanya ia lewat siang/sore hari.
Ia berhenti di depan rumahku, membunyikan klakson dan berteriak:
"Poos..!!"

Aku mendatanginya.
"Ini dari BPK neng. Buat abangnya."
"Oh iya pak, makasih pak!"
"Ini harusnya sabtu neng, tapi waktu sabtu saya kesini ga ada orangnya. Jadi saya simpenin suratnya. Kan surat penting neng, takutnya kalo saya taroh aja bisa basah,rusak atau bisa-bisa ilang neng. Nah hari ini saya baru muter, tapi ga dapet daerah sini. Tapi karena ada waktu jadi saya mampir anter surat ini dulu.. Maaf ya neng, jadi terlambat suratnya.."
Aku terdiam sesaat.
Teringat bahwa sabtu kemarin aku dan keluarga ke luar kota.
Subhanallah..!
Masih ada orang yang peduli akan nasib orang lain..
Tanpa surat itu, abangku tidak bisa ikut tahap berikutnya.
Dan pak pos, bapak dengan tubuh kecil yang hitam tersengat matahari, menjaga surat itu agar sampai benar ke tujuannya.
Betapa bangganya aku akan pak pos.
Yang senantiasa tersenyum dalam menjalankan tugasnya.
Yang menjaga surat-surat dalam karung goni coklatnya agar tidak rusak.
Dengan ikhlas membantu sesama.
"Waduh pak, makasih banyak udah disimpenin. Sabtu kemaren pada pergi keluar kota pak, makanya sepi.. Makasih ya pak!"
"Sama-sama neng.. Bapak juga tau susahnya cari kerja jaman sekarang.. Soalnya anak bapak juga seneng kalo dapet surat pangilan kerja..
Bapak doakan supaya lanjut terus sampai diterima ya neng!"
"Amiin..! Trimakasih pak!"
"Iya.. Mari neng!"

~*~*~*~*~*~*~

Hampir dua minggu berlalu.
Pengumuman akhir seminggu lagi.
Dan pada saat itu aku akan berada di pekarangan.
Menunggu.
Menunggu seorang bapak dengan sepeda motor tua yang akan mengklakson satu kali dan membawa kabar gembira dengan berteriak:

"Poos!!"

Friday, February 27, 2009

Robot atas Dogma.

Kadang orang bilang jazz itu keren.
Kadang orang bilang klasik lebih cool.
Kadang aku merasa MR. BIG paling keren.
Kadang aku merasa Al Jarreau lebih keren lagi.
Kadang aku merasa main basket paling seru.
Kadang aku merasa masak mie instant lebih seru lagi.
Kadang aku merasa cream soup itu sup paling enak sedunia.
Kadang aku merasa sop sapi di pinggiran kutek jauh lebih sedap.
Kadang aku merasa gorden tipis itu mengesalkan karenanya aku jadi masuk angin.
Kadang aku merasa gorden tebal terlalu panas.
Kadang aku merasa tom cruise paling ganteng.
Kadang aku merasa papaku lebih ganteng lagi.
Kadang aku merasa rini idol paling bagus suaranya.
Kadang aku merasa titiek puspa lebih bagus.
Kadang aku merasa ini.
Kadang aku merasa itu.
Ini.
Itu.
Berbeda selalu.
Seperti perilaku investasi yang bergantung pada profil risiko pelakunya.
Untung ruginya.
Berani takutnya.
Suka tidaknya.
Pada akhirnya, pola terjadi dengan sendirinya.
Dengan kombinasi yang beragam.
Tak lama kita akan matimatian bertahan.
Memaku nilai yang berpola.
Meninggalkan perajut pola yang menemui bentuk barunya.
Menutup indera dengan seksama.
Memaksa diri punya kata prinsip.

Dan kita kembali bertanya,
mengapa aku tak bisa merasa damai?
Cobalah tanyakan pada indera yang tertinggal.
Yang menyisakan ari-ari kesadaran.
Yang berdegup kecil setiap kau bertanya.
Bukalah alam bawah sadar.
Intuisi kan bicara.

Atau kita akan terus bertahan,
menjadi Robot atas Dogma?